Kenapa Tuhan Menciptakan Kita?
Pernahkah Anda membayangkan, bagaimana seandainya Anda tidak diciptakan oleh Tuhan? Tetap berada di Ketiadaan dan tidak dibebani oleh segala macam tetek bengek kehidupan.
Pernahkah Anda bertanya, buat apa sih, Tuhan repot-repot membuat segala kehidupan ini? Untuk beribadah pada-Nya? Toh, Dia sendiri mengaku kalau Dia tidak butuh semua itu. Tanpa kita beribadah pun, katanya Tuhan masih tetap Maha Segalanya. Kita juga tidak pernah meminta untuk diciptakan, dan dibuat menjalani kehidupan untuk merasakan segala pahit manisnya.
Lalu kenapa, Dia Yang Maha, tiba-tiba memaksa kita untuk Ada, menjejalkan kita ke dalam kehidupan, memberikan setumpuk aturan-aturan untuk kita laksanakan, menjanjikan akan memberi balasan yang baik bagi yang taat, dan mengancam dengan siksaan bagi yang ingkar? Apakah tidak lebih baik jika kita tetap Tiada, tanpa perlu repot-repot beribadah demi tidak disiksa dan demi mendapat nikmat tiada tara?
Secara ekstrim, tiba-tiba di pikiran saya ini, yang juga pemberian dari-Nya, yang kadang-kadang saya gunakan untuk berpikir sesuai perintahNya, muncul ide bahwa sebenarnya Tuhan itu memang sedang bosan. Jadi sebagai hiburan, dia pun memaksa kita yang semula Tiada untuk menjadi Ada dan menjadi hamba-hamba-Nya, menuruti segala macam omonganNya. Dia mungkin saja tengah tergelak ketika melihat ada orang-orang yang saling bertikai untuk mendapat pengakuan sebagai yang paling benar. Atau ketika ada orang merinding ketakutan ketika diceritakan tentang siksa-setelah-mati-yang-amat-sangat-pedih-sekali.
Mungkin saja Dia merasakan sensasi yang sama yang saya rasakan ketika sedang memainkan game simulasi ‘Sim City’. Saya merasakan ada kepuasan tersendiri ketika dengan egoisnya, tiba-tiba saya datangkan hujan meteor di kota yang sudah tertata rapi dan hidup dalam damai. Atau saat saya ciptakan banjir bandang dan kebakaran besar.
Dan Dia pasti tengah tertawa geli saat saya bingung mempertanyakan pada diri saya sendiri, “Kenapa sih Dia repot-repot menciptakan saya? Bagaimana seandainya saya tidak pernah ada? Pasti enak, tidak perlu repot-repot memikirkan kehidupan ini..”
Dia memang tidak butuh, tapi kita amat membutuhkannya untuk mendapat rahmat-Nya…
Kenapa Dia repot-repot menciptakan saya? ehm,,, supaya saya bisa mengenal Mas Jason Mraz dan Mas Rafael Nadal?? Hauhauhauhauhauhau…………..
Tuk jadi panitia Hari Kiamat.
Maka komen ini tidak pernah ada…
Dengan indra apa enak itu bisa sampeyan rasakan, kalau ada pun tidak?
@Fritzter
Setidaknya begini, dengan “hidup”, kita harus merasakan kesenangan dan juga kepahitan. Merasakan yang positif dan juga negatif.
Apakah tidak lebih baik jika kita hanya merasakan nol saja? Meski tidak sempat mencicipi yang enak, setidaknya kita tidak perlu merasakan yang menyakitkan..
Menghela nafas… pheewwww
iya zieb. Tuhan mungkin kesepian
Wah, pertanyaan filosofis
Saya jadi ingat sama buku “An Islamic Utopian: A Political Biography of Ali Shariati”-nya Ali Rahnema. Tokoh intelektual Iran yang dibiografikannya itu pernah nyaris bunuh diri karena memikirkan pertanyaan Maurice Maeterlinck semacam ini: Jika sebatang lilin ditiup, kemanakah perginya nyala lilin itu?
Ya, pertanyaan2 tentang eksistensi manusia yang sama yang ditanyakan Arthur Schopenhauer, Kafka dan Masnawi. Ujung pencarian jawabannya bisa beda2. Ada yang tetap hidup, ada yang bunuh diri, tercerahkan, atau malah depresi macam Nietzsche. Yang manapun, kamu ada bakat jadi filsuf lho, Bro
Kenapa Tuhan menciptakan kita? Kenapa Tuhan menciptakan saya? Entah. Saya tidak tahu pasti jawaban apa pula yang pasti utk pertanyaan ini. Sejak remaja saya juga mikirin ini. Tapi tak pernah puas. Jawabannya tak ketemu benar dalam kehidupan sehari-hari, tidak juga dalam buku2 filsafat atau karya sastra.
Dulu, saking kesalnya sama Tuhan, saya teriak2 di depan teman2 kalo Dia cuma sosok kesepian di alam semesta. Lalu, macam kanak2 main boneka, dibikinnya lah awak ini utk disandiwarakan, dibentur-benturkan, lalu dimatikan. Ia cuek bebek dengan tragedi dimana-mana, orang mati sampai berbelatung, adegan2 ranjang, bayi lahir, atau apapun yang bikin manusia menangis, tertawa atau bunuh diri.
Kalau Dia sudah bosan, dibikinnya lagi kehidupan lain sehabis satu naskah usai
Tapi… sejak dua tahunan ini, saya mikir simpel saja: Tuhan menciptakan kita untuk hidup, ada, mengisi ruang-waktu di hamparan semesta. Jelas, ini pemikiran yang tidak cukup ampuh untuk jadi jawaban sama sekali. Tapi, kenapa tidak menghidupkan hidup saja? Tak perlu mengisap rokok mild macam di iklan utk bikin hidup lebih hidup
*celotehapapulasayaini*
Saya juga punya pendapat bahwa kita ini hanya semacam program yang semuanya sudah diatur sama Dia. Takdir itu adalah baris kode yang harus kita jalani. Dan setelah menemukan itu, keragu-raguan saya dalam menjalani hidup jadi hilang, sebab saya yakin bahwa masa depan saya sudah pasti. Ah, mungkin saya memang termasuk golongan yang akhirnya tercerahkan..
*jumawa*
Nazieb,
As you may read others commenting that one is solely to worship and no other.. Religion, to my views is there, set to be abide with, not questioned and debated through the capacity of human minds.. the faith and strong beliefs are the ones ensuring jannatul rewards as ultimate blessings.
It’s nice to have found and visited your blog, indeed..
berawal dari maen game yah..heee
Wah berat euy pertanyaannya…..
Kalo menurut penerawangan saya .. Tuhan tidak menciptakan kita .. tapi Tuhan menciptakan alam semesta berikut sunnahtullah yang menyertainya. Kita ada akibat sebab akibat. Orang tua kita melakukan kolusi dengan mempertemukan ovum dan sperma. Setelah cukup waktunya .. lahirlah kita.
Nah .. saat proses pembentukan manusia itulah .. Dia ‘mengutus’ jiwa untuk masuk dalam proses tersebut agar darah, tulang dan daging itu menjadi hidup. Tidak sedikit, ketika lahir .. si orok langsung dibikin ‘tamat’ kisah hidupnya oleh orang tuanya. Ada yang nyungsep di kali, di got, di comberan dan sebagainya tanpa sempat bertanya .. kenapa Tuhan menciptakannya jika kemudian langsung dikirim kembali oleh orang tuanya?
Kita bertanya tentang mengapa kita diciptakan karena kita tak tahu untuk apa kita hidup. Jika kita tahu .. pasti kita memahami untuk apa Allah menciptakan kita .. hehehe .. sorry bos jika penerawangan saya ini beda banget dengan yang lainnya
Tuhan tidak ingin sendiri.. Hehehe…
Tapi, bersyukurlah kita ‘ada’, bisa merasakan nikmatnya blogging..!
Tuhan itu diktator!
Dirimu tampan menawan????
OMG…
Wah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Tuhan sendiri
Nadanya seperti desperate gitu Mas?
Bagi saya sih gak penting apa tujuan tuhan nyiptain saya, yang penting adalah apakah nanti saya bisa tersenyum saat ketemu dia lagi.
salah satu jenis pertanyaan transedental lain…
konon katanya, gosipnya, isunya, akal kita tidak akan pernah sanggup mengerti apa yang dimaksud Sang Maha Pencipta.
ya saya tahu, bukan jawaban yang memuaskan, eh salah, bahkan itu bukan jawaban sama sekali. ah… saya jadi berpikir lagi.
saya suka bagian tentang Sim City, hahaha… katanya kan Tuhan sedang tidak bermain dadu, apa mungkin Ia sedang bermain sejenis permainan Sim City? hmm….
salam -japs-
kalo saya cukup tercerahkan dengan kata2 “suka2nya tuhan”, wong dia yang punya kuasa. seperti ketika saya lagi punya duit banyak. saya jadi bisa ngomong, “meng, tukokke aku es teh neng angkringan ngarepan. kowe oleh njupuk gorengan sakkarepmu.”
Pertanyaan mas Nazieb juga sama dengan pertanyaan para Malaikat ketika Allah ingin menciptakan Adam, manusia pertama kali. Jawabannya Allah adalah :
“”Sesungguhnya AKU mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah : 30)
hingga membuat para Malaikat malu kepada Allah.
alasan kedua adlh QS. Al-Mulk ayat 2 :
“………..supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya………”
ini hanya sedikit referensi yah mas Nazieb dari seorang hamba yg dhaif. Moga jawaban2 yg lebih puas buat mas Nazieb bertemu dgn semakin mempelajari dan meng-kaji Al-QUR’AN dgn bimbingan para Guru yg hanif (lurus) dan sholeh. Insya Allah.